Senin, 23 Januari 2012

Makna Hidup

Saya sempat kaget, seorang anak SD kelas 5 penggemar game bertanya tentang apakah sebenarnya tujuan hidup itu? Di tempat lain, di papan gerobak seorang penjual nasi kucing tertulis tulisan, “Apakah tujuan hidup itu?” Di kaca etalase dari ibu penjual makanan tertulis kalimat-kalimat yang mendorong agar manusia menjadi manusia yang baik, berbudi, berbelaskasihan, dsb.
Yang mengherankan adalah pertanyaan-pertanyaan krusial semacam itu tidak perlu keluar dari hati orang-orang yang pandai. Orang yang biasa, sederhana, mungkin miskin atau kurang berpendidikan pun memikir dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang serius tentang hidup. Di sisi yang lain, para pengusaha, pemilik saham, direktur, manajer-manajer mungkin sedang sibuk dengan segala planning dan target perusahaan mereka.
Mereka yang sederhana, terbelakang dan miskin bertanya apakah arti hidup. Sementara yang kaya sibuk mengurus kekayaan mereka.
Pertanyaan mengenai makna hidup akan cepat atau lambat muncul dalam benak manusia. Sebagian mereka menyadarinya sedari kecil, sebagian lain menyadarinya setelah mendekati kematian. Mungkin orang bisa hidup bertahan lama dikarenakan tidak pernah menanyakan pertanyaan tentang makna hidup. Dan juga orang bisa bunuh diri di usia muda karena menanyakan pertanyaan tentang makna hidup dan tidak mendapat jawabannya.
Entah dalam Kekristenan maupun dalam dunia sekuler, pertanyaan tersebut sering tidak digubris. Gereja pun asyik mengajarkan moralitas semu belaka. Banyak gereja bersuara dengan mengaku memberitakan Firman Tuhan namun ternyata bicara tentang moralitas. Kekristenan tidak identik dengan pemberitaan moralitas, walau tuntutan moralitas bukanlah hal yang sekunder dalam kekristenan. Kekristenan diperhadapkan pada pertanyaan-pertanyaan sederhana namun serius.
“Apakah makna hidup? Mengapakah seseorang harus hidup? Mengapakah seseorang harus mempertahankan hidupnya? Apa tujuan hidup?” Tujuan hidup manusia ada dalam hidup itu sendiri. Hidup itu berharga tak ternilai. Karena hidup itu sedemikian bernilai, maka nilai itu “minta diri” untuk diperhatikan oleh manusia. Nilai hidup itu berteriak, membangunkan alam sadar manusia untuk menyatakan bahwa “Aku, si nilai dari hidupmu ini, adalah bernilai!” Nilai dari hidup itu bukan pertama-tama ada pada diri orang lain, tetapi pertama-tama ada pada diri sendiri! Bila seseorang melihat dirinya sendiri tidak berharga, namun orang lain begitu berharga, ia akan menjadi orang yang minder luar biasa. Atau bila ia menganggap dirinya sendiri tidak ada artinya, namun orang lain sedang menjalani hidup yang berarti, ia akan tidak puas dan bisa memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Hidup yang bernilai ditemukan pertama-tama dengan melihat ke dalam diri dari nilai hidup manusia sendiri, baru setelah itu boleh memandang ke dalam nilai hidup orang lain. Mencari Nilai dari SANG NILAI SEJATI adalah dengan memandang jauh ke dalam diri dan hati, karena disanalah terdapat Roh Allah yang hidup dan bertahta. Bila seorang belum menerima Tuhan Yesus dalam hidupnya, ia tidak akan menemukan Roh Kudus ada di dalam hatinya. Sebenarnya hidup manusia adalah fana saja, kecuali Roh Allah hidup, menghidupi, dan memberi arti kepada kehidupan manusia. Apa artinya gelas bila tidak ada yang namanya air. Bukankah hanya menjadi pajangan saja? Gelas dicipta untuk diisi air. Hidup manusia pun dicipta untuk di isi sesuatu. Dan sesuatu itu bukan kekayaan, materi, kesuksesan, kejayaan, kepopuleran, karena walaupun manusia memang menginginkannya, tetapi terbukti semuanya itu tidak dapat mengisi space hati manusia yang tidak terbatas. Hati manusia hanya bisa dipuaskan oleh Allah Sang Pencipta manusia itu sendiri. Baru setelah manusia di isi oleh keberadaan Tuhan melalui Yesus Kristus, mereka bisa menghasilkan hidup yang berarti dan memberi arti bagi sesamanya…

Jumat, 20 Januari 2012

Siapa mencintai uang?

Pengkhotbah 5:9-19
“Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Ini pun sia-sia. Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain dari pada melihatnya?”
Ayat ini menggambarkan bahwa manusia senantiasa mencari sesuatu yang dianggap dapat memuaskan hatinya. Dan kali ini pilihan objek pemuasnya adalah uang dan kekayaan. Manusia menganggap uang dan kekayaan dapat membuat hati mereka merasa senang dan puas, namun sayang sekali karena pada kenyataannya hati mereka tetap tidak puas. Hati yang tidak puas menyatakan bahwa sebenarnya hati tersebut memiliki suatu space yang dapat menampung segala sesuatu, dan saat uang dan kekayaan “dimasukkan” ke dalam hati, ternyata hati itu tidak menjadi penuh dan mencapai keadaan yang baik. Tetap saja ada kekosongan yang hampa yang membuat hati itu merasa ada sesuatu yang masih kurang, dan yang masih kurang itu apa? Yang jelas bukanlah uang dan kekayaan. Saat manusia mencintai sesuatu, mereka akan mengejar dan mencarinya, dan setelah berusaha untuk mengejar dan mencari, mereka akan menemukan dan mendapatkan. Setelah dapat, mereka mungkin merasa senang sedikit, tetapi tidak terlalu lama. Kemudian manusia ingin untuk mendapatkan kesenangan yang sebentar itu tadi dengan mengejar kekayaan kembali. Kemudian mereka merasakan senang lagi, dan akhirnya kesenangan itu menghilang lagi. Setelah hilang, mereka mencari kesenangan itu lagi. Tidak henti-henti sampai dikatakan bahwa sebenarnya mereka tidak pernah puas. Karena kalau mereka telah benar-benar puas, mereka akan berhenti dan mengatakan cukup. Namun ini tidak terjadi pada diri manusia yang mencintai uang dan kekayaan. Nuansa ini mirip dengan (Pkh 1:8) “… mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar.”
Ini pun sia-sia. Mengapa sia-sia? Pertama, pernyataan ini mau mengatakan apalah gunanya seorang capek-capek mencintai dan mengejar sesuatu namun sesuatu itu tidaklah memberikan kepuasan bagi dirinya. Kedua, mau menyatakan bahwa disini sebenarnya sedang terjadi suatu pengulangan yang tanpa makna. Bila sesuatu itu tidak berarti dan tidak memuaskan, mengapa perlu terus dicari dan dicintai?
Efek langsung dari bertambahnya harta bukanlah bertambahnya kepuasan, kesenangan dan kedamaian. Namun bertambahnya orang yang menghabiskannya. Ini membuat pencarian akan kekayaan ssemakin menjadi sia-sia dan menyedihkan. Karena si pecinta uang dan kekayaan itu berpikir bahwa uangnya yang bertambah ini akan menghasilkan sesuatu yang nikmat bagi dirinya, tetapi ternyata ia salah. Bahkan uang dan kekayaan yang ia hasilkan memberi suatu keuntungan dan kenikmatan bagi orang lain yang bukanlah dirinya. Tadinya ia telah mencintai uang dan kekayaan demi uang tersebut memberi kepuasan dan kesenangan pada dirinya, namun ternyata uang tersebut “lebih memilih” untuk memuaskan orang lain. Ini sangatlah ironi. Kisah seperti ini mirip dengan kisah seorang pemuda yang mencintai seorang gadis, namun gadis ini mencintai orang lain. Sungguh menyedihkan bila seseorang telah tidak mendua hati, tetapi objek cintanya selalu “mendua hati”. Uang tersebut bertambah, namun uang dan kekayaan tersebut ada bersama orang-orang lain yang sedang menghabiskan dan menikmatinya. Inilah kesia-siaan orang yang mencintai uang. Karena yang mereka dapatkan bukanlah kepuasan tetapi malah suatu perasaan cemburu dan kecewa.
“Dan apakah keuntungannya…” Kekayaan yang didapat hanya bisa untuk dilihat dan dipakai. Kalimat “selain daripada / hanya untuk” mau menyatakan fungsi yang tunggal dan sifat ketidakbermaknaan. Ini mengherankan, karena uang dan kekayaan itu ternyata tidak bisa memberikan apa-apa kepada pemiliknya selain hanya untuk dilihat. Fungsinya adalah untuk dinikmati dengan cara dilihat. Hal ini semakin memberi kesan bahwa kekayaan menduduki suatu level yang rendah dalam penilaian si penulis kitab. Dinikmati dengan cara hanya dilihat, tentu lebih rendah dibandingkan dengan: dinikmati dengan cara dipikirkan, direnungkan, dan dihayati. Harta hanya dapat dilihat, tetapi buah pemikiran bisa untuk dipikirkan dan bersentuhan dengan pribadi manusia secara lebih utuh.
“Hanya untuk dilihat.” Mau menyatakan bahwa uang dan kekayaan bersifat benda mati yang tidak berpribadi. Dari sini, sekali lagi uang ditempatkan pada level yang lebih rendah dibandingkan makhluk hidup. Uang tidak dapat diajak berkomunikasi dan berbicara karena ia tidak berpribadi. Kekayaan tidak memberikan manfaat relasional. Dengan kata lain, kekayaan tidak mengisi kebutuhan manusia untuk berelasi. Maka adalah wajar bila kekayaan yang berlimpah akan membuat hati pemiliknya menjadi kosong bila ia menambatkan hatinya pada kekayaan tersebut.
“Hanya untuk dilihat.” Kekayaan ingin mengenyangkan mata yang tidak pernah kenyang untuk melihat. (Pkh 4:8), “… matanya pun tidak puas dengan kekayaan.” Mata manusia bisa melihat bahwa kekayaan yang ia kumpulkan telah banyak dan tertimbun, namun tetap saja ia tidak puas, dan masih ingin mencari dan melihat yang lebih banyak lagi. Sampai kapan? Sampai ia menemukan bahwa segala sesuatunya adalah sia-sia. Sampai ia menemukan bahwa harta benda yang ia kumpulkan ternyata tidak dapat dibawanya ke pada kehidupan yang mendatang.

“Enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak; tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur.”
Orang yang bisa tidur enak adalah orang yang tenang dan damai hatinya dan orang yang sedang lelah. Orang yang enak tidurnya bukan ditentukan apakah dia kenyang atau tidak, juga bukan ditentukan apakah ia dikelilingi oleh banyak benda kesukaannya atau tidak. Orang yang kaya karena kekayaannya, ia dapat membeli apa saja yang ia inginkan. Dan memenuhi isi perutnya dengan makanan-makanan yang enak dalam jumlah yang banyak. Ini sudah cukup bagi si orang kaya, namun sayangnya ia malah menjadi sulit tidur. Sulit tidur karena apa? Apakah karena kekenyangan? Bisa jadi. Tetapi lebih tepatnya adalah karena ia sedang tidak tenang dan damai hatinya. Mengapa tidak tenang? Karena hatinya terlampau mencintai banyak hal. Dan efek cintanya itu membuat dia takut kehilangan apa yang ia cintai. Semakin banyak hal yang ia dapat dan miliki, semakin banyak yang ia cintai, dan ini berarti semakin banyak pula yang membuatnya takut dan kuatir akan kehilangan hal-hal tersebut. Cinta uang yang bersifat egois, akan membuat si pencinta takut kehilangan. Karena memang pada dasarnya cintanya bersifat egois.
“Kekayaan yang disimpan oleh pemiliknya menjadi kecelakaannya sendiri… sebagaimana ia datang, demikian pun ia akan pergi…”
Penulis Kitab mempertanyakan dan langsung menjawab apakah keuntungan dari orang yang senantiasa hidup dan bekerja untuk memperoleh uang dan kekayaan. Sebenarnya semuanya itu tidak memberikan keuntungan apa-apa pada kehidupan yang akan datang, yaitu kehidupan yang kekal. Kekayaan itu tidak akan ikut menyertai si pemilik kekayaan saat pemiliknya mati. Bahkan seringkali juga tidak meninggalkan apa-apa pada kuturunannya. Masih lebih baik bila kekayaan itu akhirnya diwariskan untuk kepentingan keturunannya, namun kekayaan itu sering dihabiskan oleh orang-orang yang bukan merupakan keluarga dari si pemilik kekayaan. Siapa yang tidak bijak dalam mengelola kekayaannya, pada akhirnya akan tidak meninggalkan apa-apa pada keturunannya.
Hidup yang berorientasi pada kekayaan tidak akan memberikan faedah apapun pada hidup setelah kematian. Disini mau ditekankan, bahwa perkara hidup adalah lebih dari sekedar mengejar kekayaan dan menjadi kaya. Perkara hidup harus ditujukan pada hal yang lebih tinggi dari sekedar mengejar kekayaan. Alangkah baiknya bila hidup manusia membawakan hasil yang dapat dibawanya saat setelah dia mati. Sehingga hidup yang sementara ini dapat memiliki makna yang kekal.
“Malah sepanjang umurnya ia berada dalam kegelapan dan kesedihan, mengalami banyak kesusahan, penderitaan dan kekesalan.”
Ada akibat yang fatal bagi jiwa manusia, bila mereka senantiasa mengejar kekayaan dan tidak menghiraukan perkara hidup yang lain. Kekayaan bukanlah benda yang berpribadi yang dapat mengisi kekosongan jiwa manusia. Bahkan relasi antar manusiapun belum mampu mengisi kekosongan dalam hati manusia. Hati manusia akan merana bila dibiarkan dan tidak diisi dengan sesuatu yang benar.
Manusia akan merasakan bahwa hidupnya gelap, tanpa terang, dan menyedihkan. Kekayaan akan memampukan seseorang mendapatkan dan meraih apa yang sedang ia inginkan. Namun sayang sekali, apa yang diinginkan dari hati seseorang yang gelap selalu memimpin kepada kejahatan dan keberdosaan. Inilah yang membuat hati yang senantiasa mengejar kekayaan akan penuh dengan kesedihan dan kepedihan. Semua ini belumlah akhir dari penderitaan orang yang senantiasa mengejar kekayaan. Untuk dapat mendapatkan kekayaan yang lebih, mereka harus berusaha lebih keras dari orang lain, berjerih lelah lebih keras demi lebih kaya. Dan bila ada lebih dari satu orang yang mencintai kekayaan, mereka akan menjadi rival. Mereka akan bersaing untuk bisa menjadi lebih kaya dari lawannya. Disinilah bahaya dari uang, ia dapat membuat pemiliknya berbangga dan sombong untuk kemudian mendorongnya berhasrat memilikinya lebih banyak lagi.
“Lihatlah, yang kuanggap baik dan tepat ialah, kalau orang makan minum dan bersenang-senang dalam segala usaha yang dilakukan dengan jerih payah di bawah matahari selama hidup yang pendek, yang dikaruniakan Allah kepadanya, sebab itulah bahagiannya.”
Bekerja bukan untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Bekerja bukan untuk menjadikan hasil yang diperoleh sebagai segala-galanya. Bekerja bukan untuk menjadi lebih kaya. Namun bekerja untuk bisa menikmati hal-hal yang baik.
Daripada mengejar kekayaan yang sia-sia, lebih baik menikmati hasil jerih lelah.
Hidup sebenarnya adalah menantikan kedatangan Kristus. Yang menjadi soal adalah manusia mau mengisi waktu penantiannya dengan berbuat atau tidak berbuat apa.
Hidup mengejar kekayaan penuh dengan kompleksitas penderitaan. Sedangkan hidup berjerih lelah dan menikmati hasil adalah lebih sederhana dan tidak muluk-muluk. Menjalani hidup dengan cara yang sederhana ternyata jauh lebih nikmat dari pada menjalaninya dengan penuh ambisi yang salah.
Menikmati hidup tidaklah salah. Makan minum dan bersenang-senang tidaklah salah. Mengapa? Dan sejauh apa? Bahkan Allah yang memampukan manusia untuk menikmati hidupnya.
Ada orang kaya yang tidak bisa menikmati kekayaannya dan ada yang bisa menikmati kekayaannya. Hal ini karena Tuhan yang membuat mereka demikian.
Tidak sering mengingat umur. Orang yang menghitung-hitung umurnya, biasanya adalah orang yang sedang mengalami penderitaan. Hanya orang yang sedang menderita dengan hebat yang kemudian menginginkan lebih baik mati. Namun orang yang sedang bersenang dalam hatinya, lupa akan waktu yang sedang berlalu.
Waktu itu lambat bagi mereka yang bersedih dan susah. Namun cepat bagi mereka yang bahagia dan senang.

Masihkah Allah Penuh Murka?

Anak yang terhilang itu kembali kepada Bapanya. Andai saja anak itu mengenal sang ayah sebagai ayah yang jahat, bejat, pendendam, angker, mengerikan, dst, pastilah anak ini tidak memilih untuk kembali kepada Bapanya. Kita bersyukur, Bapa ini adalah ayah yang berhati kasih dan penuh kemurahan. Ia tidak mahal hati. Ia tidak hitung-hitungan kepada kesalahan anakNya. HatiNya terlalu luas untuk bisa disita oleh kejengkelan, kekesalan dan kemurkaan pada sang anak durhaka ini. Kita tidak habis pikir, bagaimana Ayah ini bisa menerima kembali anakNya bahkan mengembalikan dia ke posisi asal sebagai anak, lebih lagi memberikan pesta dan kemeriahan bagi peristiwa kembalinya anak ini. Andai saja Allah bukanlah Allah yang penuh kemurahan dan kasih seperti sang Bapa dalam peristiwa ini, mungkin lebih baik kita tidak usah memilih "pulang" kepada Nya setelah berbuat salah dan dosa. Mungkin lebih baik kita tidak usah mengambil resiko untuk menuhankan Nya, karena bila Ia tidak penuh kasih, maka habislah kita! Sekali kita berbuat salah, langsung Ia menghajar kita 2 kali lebih berat dari kesalahan kita. Maafkan, mungkin bahkan 10 kali lebih berat! Jikalau kita orang berdosa ini tidak berani menghampiriNya, tidak berani melayaniNya, tidak berani berdoa padaNya, itu berarti konsep Allah yang kita percayai adalah "Allah yang jahat dan tidak penuh kasih." Mengapa kita takut menghadap Dia? Seharusnyalah kita memilih untuk berlutut di hadapanNya, bahkan setelah berbuat dosa. Karena dosa itu akan membusukkan jiwa manusia sebelum dibersihkan oleh Dia yang telah menebus kita. Barangsiapa selalu takut kepada manusia, ia perlu melihat kepada Allah. Manusia bukan Allah sehingga perlu ditakuti. Allah sendiri menampilkan diriNya dalam rupa yang sangat bersahabat dengan orang-orang berdosa (bukan berarti mendukung orang untuk berdosa). Ia datang ke depan muka Maria si pelacur itu, dan berbicara padanya. Ia bertanya dan bercerita dengan pelacur itu, dengan cara yang sangat tenang, damai, dan tanpa marah-marah. Namun dampaknya menghasilkan pertobatan yang sejati! Siapa bilang dengan kemarahan dapat mempertobatkan orang berdosa? Para nabi marah, karena mereka bukan Allah! Mereka marah, karena mereka merasa bahwa Allah menghendaki mereka marah. Tapi apa benar demikian? Allah bisa marah. Allah bisa murka. Tapi Ia lebih suka diam dan tenang. Mengapa? Karena Ia sudah menyimpan kemarahanNya dalam api neraka. Untuk apa marah-marah lagi? Seolah-olah Allah kelebihan marah. Ia bukan Pemarah! Ia adalah sang Kasih itu sendiri. Lagi pula (hal ini yang jangan sampai lupa) Ia telah menumpahkan "kemarahanNya" pada Kristus dalam peristiwa penyaliban. Maka tuntaslah kemarahan Allah! Tak tersisa! Bila kemarahan itu masih tersisa, berarti Kematian Kristus masih kurang. Kasihan sekali Yesus kalau begitu, karena masih harus menanggung kemarahan berikutnya. Kita bersyukur, karena Allah bukanlah Allah yang suka marah-marah. Kalau pendeta suka marah-marah biarkan saja, karena ia hanya pendeta. Pendeta bukan Tuhan, maka mereka suka marah-marah. Kita bisa memahami mengapa manusia menjadi marah. Tetapi siapa berani mengatakan bahwa ia tahu mengapa Allah marah? Kecuali orang tersebut pernah merasakan menjadi Allah. Bukti bahwa Allah bisa marah itu telah dinyatakan dengan adanya neraka dan dengan kematian Yesus. Namun mengapa Allah marah, lebih sulit dipahami daripada hal sebelumnya. Ada yang mengatakan Allah tersinggung dengan pemberontakan manusia maka Allah marah. Ada yang mengatakan karena Allah begitu suci dan kudus maka Ia membenci dosa. Mengapa Ia harus membenci sesuatu yang mana sesuatu itu ada dengan persetujuanNya bahkan kehendakNya? Bila kita terlalu takut untuk beranggapan bahwa dosa ada dikarenakan Allah menghendaki demikian, maka kita selalu menemukan kebuntuan dalam pemikiran kita, atau setidaknya kita sedang memilih berlaku tidak jujur dengan hati kita sendiri. Bila Allah tidak merancang dosa untuk masuk ke dalam dunia, maka Kristus yang tersalib itu tidak perlu menjalankan misiNya! Kedatangan Kristus, penyaliban Kristus, kematian Kristus dan kebangkitanNya adalah Rencana Allah yang maha sempurna! Itu semua tidak boleh tidak terjadi. Itu semua harus terjadi. Bila ada yang bisa membantahnya berarti orang tersebut bisa mengubah sejarah, yaitu sejarah kedatangan Kristus! Siapa yang bisa membatalkan karya Kristus? Tidak ada! Bahkan Yesus sendiri menyetujui seluruh rencana Allah Bapa. Berarti sedari awal, di dalam kekekalan, Kristus telah setuju bahwa dunia ini akan "dimasuki" oleh dosa! Kristus sendiri setuju ada dosa. Allah sendiri merancangkan dosa masuk ke dunia. Dan tanpa kehendakNya tidak ada apapun boleh terjadi. Tanpa kehendakNya, dosa tidak mungkin ada. Tanpa kehendakNya pun, tidak ada manusia yang bisa selamat. Masih ngeri kah kita mengatakan bahwa Allah adalah perencana adanya dosa? Atau lebih baik kita "memakai" rupa Hawa saja yang menyalahkan ular karena masuk ke dalam taman? Walaupun demikian, Allah bukanlah pencipta dosa! Ini yang menyulitkan kita untuk bisa lebih memahami. Namun dengan melihat sang Bapa pengampun terhadap manusia berdosa, cukup membuat kita bersyukur dan berlutut padaNya. Kita menyembah Dia, karena Ia adalah Allah yang kasih adanya. Kita berani berlutut padanya dengan kepala tersungkur ke tanah, karena kita tahu bahwa kepala kita tidak akan Ia hajar dengan tongkat besi. Malahan Ia mengangkat kita dan kemudian memeluk kita dan kemudian memakaikan kita baju putih bersih dan kemudian menjamu kita pesta dan kemudian memberikan kita cincin emas dan kemudian... ... Semua itu tidak mungkin bila Ia bukan KASIH.

Jumat, 25 Maret 2011

Berkenan kepada Allah 2

Bila memang Allah kristen adalah Allah yang bisa dan dapat dipenuhi oleh murka, pastilah Ia adalah Allah yang sungguh-sungguh menggentarkan manusia. Jauh di dalam hati saya, saya menginginkan Allah yang tidak perlu marah atau murka. Karena yang namanya “marah” itu dapat menimbulkan sakit hati dan sakit fisik yang teramat sangat. Apalagi yang marah adalah Tuhan yang mencipta langit dan bumi! Membayangkan kemarahanNya saja sudah membuat saya takut, ngeri, dan depress. Bila seorang kristen tidak takut Allah marah, saya ragu ia telah mengenal Allah yang sesungguhnya. Di dalam hati saya menginginkan Allah yang tidak pernah marah, namun di sedalam-dalamnya hati saya mengetahui bahwa Ia adalah Allah yang mempunyai emosi marah. Namun saya bersyukur, karena kemarahanNya sama sekali tak dapat disamakan dengan kemarahan manusia. Kemarahan Nya adalah kemarahan yang kudus dan “terpisah”! Nanti akan saya jelaskan apa yang saya maksud dengan “terpisah.”
Kemarahan manusia dipenuhi dengan segala muatan yang kotor, palsu, cacat, najis, (atau apapun yang dapat saudara tambahkan sendiri). Namun kemarahan Tuhan sungguh murni, mulia, suci, agung. Seorang ayah marah kepada anaknya yang melakukan kesalahan fatal, dan kemarahan itu menyatu langsung dengan kebencian terhadap pribadi sang anak. Tidak demikian Allah terhadap anak-anakNya. Ia “marah” pun sebenarnya “tidak marah” (karena saya menganggap kata “marah” yang digunakan dalam Alkitab harus dibedakan saat diterapkan bagi orang percaya dan orang tidak percaya). Kemarahan Tuhan kepada umatNya adalah kemarahan bermuatan penuh kasih! Marah yang sangat menyayangi. Marah yang penuh kasihan, kelembutan, dan perhatian yang bersih. Sehingga “marah” yang Ia tujukan kepada anakNya sebenarnya hanyalah berarti KASIH YANG INGIN MENDIDIK/ KASIH YANG INGIN MEMBENTUK, MENGUBAH, dan MENJADIKAN anak-anakNya SEMAKIN SERUPA dengan Kristus, Sang Sulung. Hal ini belum saya rasa dan lihat jelas dalam doktrin Reformed Injili sekalipun. Doktrin ini bukan saya utarakan dan buat-buat sendiri. Doktrin ini sudah mengendap di dalam kepala saya sejak lama, namun dibantai tanpa ampun oleh pengertian konsep “Allah yang salah.” Allah Reformed, menurut pengertian saya adalah Allah yang dipenuhi dengan kemarahan dan kebencian. Ini penilaian saya pribadi. Dan saya bukanlah orang satu-satunya yang beranggapan demikian. Saya tidak mengetahui mengapa hal sedemikian bisa terjadi. Mari kita merenungi sungguh-subngguh Firman Tuhan dengan rendah diri! Bukan rendah hati! Saya mempercayai seorang kristen harus rendah diri di hadapan Allah dan rendah hati di hadapan manusia. Rendah diri berarti menganggap diri rendah. Rendah hati berarti tidak menyombongkan segala kehebatan. Ini dua hal yang sangat berbeda.
Allah “marah” dengan anak-anakNya dalam suatu kemarahan yang “sejuk” dan mendidik! Namun, Ia benar-benar “marah” kepada mereka yang menolak DIA YANG TERSALIB. Kemarahan Allah kepada manusia yang tidak percaya adalah suatu kemarahan yang laten, panas, menghanguskan, mematikan, dan membinasakan! Berdoalah agar anda dan orang-orang yang anda sayangi bukanlah kelompok dari umat yang satu ini. Kemarahan Tuhan kepada manusia terhilang sungguh mengerikan. Pernahkah saudara memikirkan bentuk kemarahan yang bagaimanakah yang paling mengerikan yang dapat Allah berikan kepada manusia? Kemarahan yang paling menakutkan bukanlah menyebabkan manusia ditabrak truk, atau menyebabkan mereka terkena AIDS, tetapi kemarahan yang hebat bisa menyebabkan hidup seseorang sedemikian makmur, enak, sejahtera, sukses, bekelimpahan, dan seterusnya-dan seterusnya.... namun TANPA ALLAH! Hidup tanpa Allah adalah hidup yang sungguh mematikan! Lebih baik aku mati di dalam Tuhan dari pada aku hidup tanpa Allah? Hidup tanpa Allah berarti pada kenyataannya Allah tidak pernah mengenal anda. Sehebat apapun anda menganggap anda mengerti Ia, namun bila Dia tidak mengenal anda, hal itu menyebabkan kefatalan dasyat. Tuhan tahu siapa yang Dia pilih! Tuhan tahu siapa yang Ia kasihani! Demikian juga domba mengenal suara Gembalanya. Bila anda adalah salah satu dari kawanan domba kepunyaanNya, anda akan mengerti isi hatiNya, dan mampu menilai manakah ajaran yang salah, mana yang benar. Kehidupan tanpa Allah berarti hidup untuk DIBUANG SELAMA-LAMANYA. Sampai kapan? Sampai selama-lamanya? Seberapa lama? Selama-lamanya? Sejauh mana? Sejauh-jauhnya. Dimana? Di tempat yang tanpa Allah! Sama sekali tanpa Allah.
Kemarahan Allah mempunyai sifat yang berbeda dan terpisah menurut konsep “domba” atau bukan, “anak” atau bukan? “Umat tebusan” atau milik setan? Saya melihat hidup manusia yang tanpa Allah. Mereka pikir mereka aman dan bahagia. Karena Allah yang Sejati pastilah mengganggu manusia yng sejati. Tidak ada manusia yang sejati yang tidak sungguh-sungguh terganggu dengan hadirnya Allah yang sejati. Manusia yang sungguh-sungguh manusia pastilah manusia yang berdosa. Dan manusia yang berdosa tidak ada yang sungguh-sungguh cinta Tuhan. Manusia berdosa punya zona nyamannya sendiri,punya rencananya sendiri, punya kesukaannya sendiri, mereka merasa bisa hidup tanpa Allah. Dan Allah membenci anak-anakNya menjadi manusia yang seperti ini. Maka Ia mengganggu zona nyaman saudara! Berbahagialah mereka yang zona nyamannya diganggu oleh Tuhan! Berbahagialah mereka yang rencana dan cita-citanya DIGAGALKAN oleh Tuhan! Karena itu berarti Tuhan mengasihi saudara. Bukti bahwa Tuhan mengasihi seseorang adalah dengan memberinya banyak gangguan dalam hidupnya, banyak kegagalan, banyak penderitaan, dan banyak sakit hati. Maka saya sangat takut untuk berdoa: “Tuhan... sayangilah aku dengan sangat!” Karena siapa yang semakin Ia sayangi akan semakin Ia bentuk dan didik! Saya kadang bersyukur, mendapati diri saya bukanlah orang yang cukup pintar. Saya melihat ada banyak orang yang lebih pintar dari saya. Namun tragisnya, menyedihkannya, dan bersukacitanya: Mereka lebih banyak di “pukul” oleh Tuhan. Mereka lebih banyak dihajar! Mengapa? Ini karena mereka lebih pintar dari orang kebanyakan. Orang yang pintar adalah orang yang keras kepala. Orang bodoh tidak ada yang keras kepala. Orang bodoh di apakan saja nurut dan tidak protes. Tetapi orang pandai sering keras kepala. Dan orang keras kepala akan dibentuk Tuhan lebih lama, akan dipukul Tuhan lebih lama. Akan diasingkan Tuhan lebih lama! Dan mereka yang semakin pintar akan semakin lama diasingkan oleh Tuhan! Mereka yang semakin lama diasingkan Tuhan akan semakin lama “menyia-nyiakan” hidupnya. Itulah sebab mengapa orang-orang yang besar (di tangan Tuhan) memiliki kisah hidup yang sangat memilukan hati bila diungkapkan.
Saya ingin mendalami misteri ini. Namun adakah Tuhan memberikan saya pengertian yang cukup dan anugerah yang cukup untuk itu? Saya tidak tahu. Hidup itu sungguh dipenuhi dengan syukur, namun untuk dapat bersyukur dengan sebegitu hebat dan murni, seorang kristen kadang perlu menghadapi hidup yang sangat menggelisahkan dan sulit luar biasa. Hidup seseorang akan mencapai Fullness bukan di titik keberhasilannya, bukan di titik kejayaannya, namun dititik terdalam dari penderitaannya. Penderitaan (suffering) akan melahirkan orang-orang yang “dalam.” Kekayaan dan kemasyuran akan melahirkan anak-anak “gampang.” Lalu bagaimanakah kita harus berdoa dan memilih? Yang manakah yang mau saudara pilih? Disayang Tuhan untuk dididik dan dihajar atau dibenci Tuhan untuk dimurkai dan dibuang oleh Tuhan? Keduanya tidaklah sama!

Selasa, 22 Maret 2011

Berkenan kepada Allah 2

Konsep "berkenan kepada Allah" adalah sistem pikir yang mengalami kegagalan dalam berlogika kristen yang benar. untuk menjadi "berkenan", manusia harus membawa jasa mereka ke tempat tertinggi yang tidak seharusnya. ini teraplikasi dengan arti: semakin aku mengusahakan suatu jasa dari diriku, maka Ia akan menjadi semakin senang. Padahal dorongan untuk melakukan kebaikan adalah dari Tuhan.
Ini membawa kita bertanya mengapa Ia sepertinya mengharapkan kita melakukan kebaikan? apakah agar Ia menjadi senang? sungguh kasian Allah yang seperti ini. karena Ia selalu dikecewakan oleh ciptaanNya.
hasrat yang menggerakkan Tuhan hanyalah dari diriNya sendiri dan hanyalah bagi kemuliaanNya sendiri. Allah kristen adalah "Allah yang egois" dalam pengertian kita yang penuh dengan dosa. bila anda tidak bisa menerima konsep ini, berarti anda terjebak dalam pengertian salah yang bisa berakibat fatal bagi kerohanianmu.
Ingat! bahwa Allah tidak membutuhkan apapun diluar diriNya sendiri. maka segala sesuatu yang manusia kerjakan menurut pengertiannya sendiri adalah sesuatu yang sia-sia. mereka pikir mereka sedang menyenangkan Allah, padahal Allah jijik dengan segala usaha baik mereka! ini perbedaan besar antara kekristenan dengan agama lain. agama lain mengkonsepkan allah mereka akan menerima mereka bila mereka telah berjuang berbuat baik.
namun Allah kristen, bisa membuang saudara karena terlalu baik! saya bukan menyarankan anda berbuat dosa! tetapi bila saudara adalah seorang yang anda anggap baik dan layak di hadapan Tuhan,maka ini berarti saudara sama dengan orang Farisi yang berdoa dengan bangga di hadadapan Allah, namun Allah tetap tidak berkenan kepadanya. betapa sulit dan rumitnya menyenangkan Allah kristen... (bersambung)

Senin, 21 Maret 2011

Bisakah Allah murka? Benarkah Allah murka. sungguh di dalam hati saya, saya tidak menginginkan konsep Allah yang murka atau penuh dengn murka. Bila saudara mengerti mengapa Allah menjadi murka dan untuk kepentingan apa Ia perlu murka, mungkin anda akan menyesal menjadi seorang kristen. karena kita terlalu terbiasa mengenal Allah yang penuh kasih kepada manusia. tahukah saudara bahwa Allah sebenar-benarnya lebih mengasihi diriNya sendiri ketimbang ciptaanNya? baru satu pertanyaan ini saja sudah membuat keningmu mengkerut. bagaimana bila ternyata Allah yang saudara sembah adalah Allah yang keliru! Allah adalah Allah Alkitab, mengenal Dia hanya bisa melalui FirmanNya. pikiran yang tercanggih namun tanpa Firman hanya akan menghasilkan Allah yang palsu. Allah itu cukup pada diriNya sendiri, dan I a mencipta manusia bukan karena kurang bahagia, tetapi karena Ia terlampau penuh dengan sukacita, sampai sukacitaNya membuat Ia mau berbagi sukacita dengan sesuatu yang di luar diriNya, yaitu manusia. sebenarnya hal ini tidaklah wajib bagi Allah, namun Ia tetap memilih mencipta manusia agar NAMANYA SENDIRI semakin dimuliakan!
kita kembali kepada konsep Allah murka. Alkitab mencatat murka Allah berkali-kali, sehingga kita tak mampu berdalih dengan mengatakan bahwa Allah sebenarnya tidaklah murka. namun murka Allah sangat berbeda dengan murka manusia. manusia menjadi murka karena tersinggung, disakiti, dirugikan, dihina. tidak demikian dengan Allah. Allah kristen tidaklah reaktif. Ia tidak perlu bermuka merah terus-menerus menghadapi keberdosaan manusia, Ia hanya menetapkan hukum (semacam hukum alam) yang akan menghabisi manusia bila manusia pada nyatanya tidaklah bertobat. hukum tersebut taat kepada Allah. saya menyebutnya hukum konsekuensi. sebagai contoh: bila lampu merah lalu lintas menyala, anda harus berhenti. bila anda tetap tancap gas, anda akan bertabrakan dengan kendaraan lain. ini bukan hukuman dari Allah, tetapi ini adalah konsekuensi logis dari kesalahan yang anda buat. banyak hal Allah mencipta hal-hal sedemikian

berkenan kepada Allah

Belum lama ini saya dikagetkan dengan suatu pengertian yang mengerikan. saya disadarkan bahwa "dipakai Tuhan" dengan "berkenan kepada Tuhan" adalah dua hal yg berbeda. padahal sedari dulu kita begitu ingin agar hidup kita boleh dipakai oleh Tuhan. namun pernyataan diatas membawa kita kepada konklusi praktis bahwa Tuhan bisa saja memakai seseorang utk mengerjakan kehendakNya namun tetaplah Ia tidak berkenan kepada pribadi yang dipakai itu. bagaimana bisa? bisa! Tuhan bisa memakai keledai. (ingatkah saudara akan peristiwa bileam yang mengendarai keledai?). Tuhan bisa memakai batu untuk memuji Dia. Tuhan bisa bahkan memakai setan untuk menggenapi rencanaNya. Tuhan bisa memakai apa dan siapa saja. hal ini sungguh mengerikan. karena ini berarti bukan tidak mungkin bahwa Ia memakai kita namun Ia tidak berkenan kepada kita! saudara bisa merasa giat dan berkorban besar bagi Tuhan, namun Tuhan tidak menganggap apa yang saudara kerjakan. betapa susahnya menjadi seorang kristen. saat kita ingin menggumulkan dan menghidupi satu ayat tertentu, ternyata ayat yang lain kita abaikan. mengapa hidup itu tidak seotomatis yang kita harapkan? andai saja Tuhan mengatakan, "kau mentaati satu hukum, berarti mentaati semua hukum." tetapi tidak demikian kenyataannya. malahan Ia berkata dengan nada yang sebaliknya, "kau tidak mentaati satu hukum, berarti melanggar semua hukum." siapakah sebenarnya Allah itu? apakah sebenarnya keinginan terdalamNya? sungguh kita membutuhkan waktu seumur hidup untuk mengenalNya. pernahkah kita memikirkan bahwa Ia adalah Allah yang bermuatan emosi? bila Ia sungguh adalah Allah yang beremosi, maka adakah kemiripan antara emosiNya dengan emosi manusia? bila manusia bisa marah dan menghancurkan sesuatu, apakah Ia juga didorong oleh emosi yang sedemikian?bila ternyata Alkitab mengatakan Allah murka,maka seperti apakah murka yang Ia miliki? betulkah murkaNya adalah murka yang menghabiskan napas dan tenaga seperti yang manusia alami? atau kata "murka",sebenarnya lebih mengkomunikasikan ketidak bekenananNya?...