Kamis, 27 Januari 2011

BijaksanaMu kemana?

Mengapakah manusia tidak bisa berdiam diri sejenak? Mereka senantiasa beraktifitas, bergerak, berjalan, berpikir, dan melakukan sesuatu? Seolah dengan terdiam sejenak, mampu membunuh kehidupan mereka, seolah perenungan adalah wilayah terasing dan menakutkan yang bisa manusia lewati. Mereka memakai otak mereka, tangan mereka, perasaan mereka, untuk melewati waktu tanpa terdiam.
Apakah yg manusia cari? Apakah yang manusia kerjakan? Manusia tidak mungkin diam terlalu lama. Karena hal itu dapat membuat mereka gila. Bahkan orang gila pun tak mau berdiam saja. Mereka berjalan mondar mandir, berpikir hari itu mereka akan menemukan sesuatu. Sesuatu yang mereka pikir perlu mereka cari. Tanpa mengetahui dari mana datangnya desakan untuk mencari!
Siapakah yang paling mampu bediam diri? Ya benar! Para pemikirlah yang sering berdiam diri. Namun mereka bersikap pura-pura saja, karena mereka tidaklah benar-benar terdiam. Otak mereka aktif, sangat aktif. Pikiran mereka mau menjangkau angkasa, di mana burung-burung mengudara. Mereka lebih pintar, bahkan jauh lebih pintar dari pada manusia yang banyak bergerak. Namun gerakan kepandaian manusia pandai, menemukan kebuntuan dalam siklus pikirnya sendiri. Berpikir, dan merasa secara cerdas, namun tetap merasakan keputusasaan yang mencekik.
Bagaimana dengan mereka yang jarang berpikir? Apakah golongan ini adalah manusia tanpa rasa putus asa? Ternyata tidak! Mereka adalah orang-orang yang sering merintih, mengeluh, menggerutu akan hidup yang mereka jalani. Seakan hidup selalu mencengkram dan mengancam nasib mereka.
Dibutuhkan keberanian yang besar untuk menjadi seorang pemikir. Terlebih lagi, seorang pemikir yang diikat oleh kebenaran sejati. Oh, sungguh keberanian itu datang dari mana? Dari mereka yang bergerakkah? Dari pemikir putus asakah? Atau dari mana? Dan apa yang perlu mereka pikirkan?
Kebuntuan itu meraja lela. Ketulian itu hinggap di telinga mereka yang terlalu banyak bergerak. Namun kebijaksanaan datang kepada mereka yang ia cintai. "Hai, bijaksana Manusia-manusia yg buruk itu memenuhi muka bumi. Mereka berceloteh, bertengkar, menghina, mengumpat, merendahkan, dan membenci makhluk yang lain. Kebencian menguasai mata mereka. Nafsu mereka tak terkendali, ingin selahap segala apa yang mereka ingin dan lihat. Mata mereka mencari korban untuk mereka tipu. Kebaikan hanya kefasikan naif yang bermotivasi busuk belaka. Setiap tawa adalah tawa yang hampa. Karena mereka pikir hidup mereka aman dan damai. Namun aman yang mereka miliki hanyalah angin bertiup yang membawa mereka ke kebinasaan. Kebinasaan menunggu manusia dungu dengan sabar dan tenang. Karena mengetahui, langkah mereka tak kan beralih ke arah yang benar. Harapan mereka muluk. Sirna bersama tawa bodoh yang mereka dengungkan setiap waktu. Mereka berharap sorga mendatangi mereka bersama semua perawan angkasa. Namun tak tahu apakah mereka bukanlah setan dari negeri bayangan api. Neraka menghasilkan perawan-perawan cantik yang berbisa. Ingin mencium dan tak melepaskan jiwa manusia dungu. Makhluk bumi tak cukup pandai mencium bau neraka. Padahal bau itu begitu menusuk di balik raut wajah yang elok. "Tipuan di atas semua tipuan. Cerdiknya dirimu memeluk manusia. Kiranya kau tak melepaskan mereka dalam bius bodohmu. Agar mereka tak menemukan jalan damai yang mereka kira telah mereka capai."
kebodohan tersembunyi di balik gaun raja. Kedunguan tersimpan di hati manusia bejat. Kecongkakan bersemayam bersama pemberontakan terhadap Tuhan. "Tuhan segala tuhan, mengapa Engkau belum juga murka, untuk membinasakan segala yang bergerak di atas bumi. Agar kecongkakan napas mereka dihentikan tanpa ampun! Namun Kau bukan aku. Engkau terlalu penuh-penuh kasih. KasihMu menopang bumi, dan memberi tumbuhan-tumbuhan boleh berbuah. Kau menghujani bumi dengan rahmat yang tak kumengerti. O...Tuhan. Tidakkah Kau dengar teriakan roh orang-orang suci yang menghendaki penghakimanMu?" sorga! Jenguklah aku. sekali kau berkunjung, parasmu tak hendak kulupakan. Dan senyumanmu, memberi terang kepada tiap langkahku!
Aku hendak berpikir, namun aku masih perlu melangkah. Dan aku butuh menghirup bijaksana yang rela Kau tinggalkan, kepada hidup manusia yang fana."
Biarlah kesejatian hikmat, tak malu berteman dengan manusia yang fana. Agar kefanaan itu boleh ditentang, dilawan, diserbu dalam peperangan roh yang tidak kelihatan! Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar